Festival Songkran yang Tewaskan 243 Orang

Festival Songkran yang Tewaskan 243 Orang

Suasana sukacita dan keceriaan Festival Songkran di Thailand berubah menjadi duka yang mendalam setelah insiden tragis yang mengakibatkan kematian 243 orang dan puluhan lainnya terluka parah. Festival budaya yang merayakan Tahun Baru Thailand ini, yang diadakan setiap tahun pada pertengahan April, menjadi sumber kesedihan bagi ribuan keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai.

Menurut laporan otoritas lokal, kecelakaan ini terjadi akibat berbagai faktor, termasuk kelebihan kecepatan, pengemudi mabuk, dan kecerobohan dalam mengemudi. Kendaraan bermotor, yang padat lalu lintasnya selama perayaan, juga menyebabkan beberapa kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa.

Festival Songkran, yang dikenal dengan tradisi penyiraman air sebagai simbol pembersihan dan penyegaran untuk menyambut Tahun Baru, seringkali diwarnai dengan pesta dan perayaan yang berlebihan. Penggunaan minuman beralkohol dan kegiatan berbahaya lainnya semakin meningkatkan risiko kecelakaan selama festival ini.

Pemerintah Thailand dan otoritas terkait telah mengecam perilaku yang tidak bertanggung jawab selama Festival Songkran dan berjanji untuk mengambil langkah-langkah tegas untuk mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan. Kampanye keselamatan jalan raya dan penegakan hukum yang lebih ketat diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan selama perayaan budaya ini.

Tragedi ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat Thailand dan wisatawan untuk selalu memprioritaskan keselamatan dan bertanggung jawab saat berpartisipasi dalam festival budaya yang meriah ini. Kehilangan yang tragis dari nyawa manusia menunjukkan bahwa kegembiraan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keselamatan diri sendiri dan orang lain

Diwarnai dengan duka. Selama enam hari perayaan, sebanyak 243 orang tewas. Dilansir dari Bangkok Post pada Kamis Festival Songkran yang dirayakan mulai 11-16 April mencatatkan momen spesial. Untuk pertama kalinya festival tahun baru Thailand dengan perang air itu berpredikat sebagai Situs Warisan Dunia Takbenda UNESCO.

Sayangnya, perayaan itu bernoda. Menteri Pendidikan Permpoon Chidhob mengumumkan bahwa ada berita 1.811 kecelakaan yang terjadi sejak tanggal 11-16 April. Kebanyakan adalah pekerja yang pulang dari Festival Songkran, sebagian kecil adalah turis

Dari data ada 1.837 orang yang terluka dan 243 orang tewas. Presentase tertinggi adalah kecelakaan motor dengan cakupan 84,9 persen. Kecelakaan terbanyak terjadi di Provinsi Chiang Rai dengan 71 korban dan 15 kematian. Kemudian, ada Provinsi Phrae dengan jumlah korban kecelakaan 68 orang

Pada tanggal 16, terjadi 242 kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 32 orang tewas dan 237 luka-luka. Penyebab utamanya adalah ngebut 37,6 persen, konsumsi alkohol 23,9 persen dan menyalip kendaraan lain 21 persen.

Jumlah kematian ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu, 200 orang tewas. Meski begitu, jumlah kecelakaan menurun sebesar 10,4 persen, menurut Menteri Kesehatan Masyarakat Cholnan Srikaew. Terlepas dari popularitasnya, Festival Songkran dijuluki sebagai Tujuh Hari Berbahaya oleh pihak berwenang sekitar satu dekade lalu, karena banyaknya kecelakaan yang terjadi di jalan raya selama perayaan.

Kontroversi & Alasan Israel Serang Iran

Kontroversi & Alasan Israel Serang Iran

Israel kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah melancarkan serangan udara terhadap fasilitas militer Iran, meskipun dilarang oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Serangan tersebut meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan memicu debat yang sengit tentang legitimasi dan konsekuensi tindakan tersebut.

Pemerintah Israel membela serangan tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional mereka dari ancaman yang dianggap berasal dari Iran. Mereka mengklaim bahwa Iran secara terus-menerus mengembangkan kemampuan nuklir dan mendukung kelompok militan di seluruh wilayah, mengancam kestabilan regional dan keamanan Israel.

Meskipun Amerika Serikat dan sekutunya telah menekan Israel untuk menahan diri dan memprioritaskan upaya diplomasi dalam menangani Iran, Israel menganggap ancaman Iran terlalu serius untuk diabaikan. Mereka berpendapat bahwa ketidakmampuan komunitas internasional untuk menahan ambisi militer Iran telah memaksa mereka untuk bertindak sendiri demi kepentingan keamanan nasional mereka.

Reaksi internasional terhadap serangan tersebut sangat bervariasi. Beberapa negara dan organisasi internasional mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan upaya perdamaian di wilayah tersebut, sementara yang lain menyatakan dukungan terhadap langkah Israel sebagai respons terhadap ancaman yang nyata.

"Serangan rudal Israel menargetkan sebuah situs di Iran pada Jumat pagi," menurut ABC News.

Selain di Isfahan Iran tengah, ledakan juga terjadi di Kegubernuran As-Suwayda di Suriah selatan dan di wilayah Bagdad serta Gubernuran Babil di Irak pada Jumat pagi.

Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya memastikan akan membalas serangan Iran terhadap Israel.

Langkah yang diambil Netanyahu ini bertolak belakang dengan saran dari Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron dan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock yang memintanya untuk menahan diri.

Pertemuan kedua menteri luar negeri itu dengan Netanyahu berlangsung di Kantor Perdana Menteri Israel di Yerusalem pada Rabu dua hari lalu. Saat itu, Netanyahu menolak saran Jerman dan Inggris untuk menahan diri dengan alasan Israel berhak mempertahankan diri dari serangan Iran.

"Kami akan membuat keputusan sendiri mengenai tanggapan terhadap serangan Iran. Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk mempertahankan diri," kata Netanyahu.

Alasan ini sebelumnya sempat juga diungkapkan Netanyahu saat Israel menghadapi Operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan oleh gerakan Palestina, Hamas, pada Oktober 2023 lalu.

Meski begitu, ada alasan lain pula yang mendasari rencana Israel untuk membalas serangan yang dilakukan oleh Iran, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Daniel Hagari, juga mengatakan Israel akan mengerahkan berbagai kemampuan militer dan mengerahkan sekutu untuk membalas Iran.

Sebelumnya, Komandan Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Kayumarth Heydari mengejek Israel memiliki pertahanan yang lemah jika tanpa sekutunya yang membantu menembak rudal dan drone Iran. Meski tidak diungkapkan secara langsung, rencana Israel untuk membalas serangan Iran menunjukkan komitmen mereka untuk unjuk kekuatan militer yang dimilikinya guna menghadapi Iran.

Sementara itu, Wakil Presiden Iran Mohammad Mokhber mengatakan negaranya tidak menginginkan eskalasi perang namun jika rezim Israel melakukan kesalahan lagi maka Iran akan memberikan respons yang keras. Dikutip dari kantor berita IRNA, pejabat Iran membuat pernyataan tersebut dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Suriah Hussein Arnous pada Kamis kemarin.

Mokhber mengatakan bahwa serangan terhadap misi diplomatik Iran di Suriah 1 April lalu menunjukkan keputusasaan rezim jahat dalam menghadapi perlawanan Palestina dan kelompok perlawanan lainnya.

“Kami tidak mencari ketegangan, namun kami akan memberikan respons keras jika rezim Zionis melakukan kesalahan lagi”, kata Wakil Presiden tersebut.

Perdana Menteri Suriah memuji operasi pembalasan Iran sebagai respons yang menghancurkan terhadap rezim tersebut, dan mengatakan bahwa tindakan berani tersebut mempertanyakan dan menantang keberadaan rezim Zionis, kredibilitasnya, serta para pendukungnya.

Arnous juga mengatakan bahwa tentara Suriah dalam kesiapan penuh untuk mendukung front perlawanan dan memberikan respon yang keras terhadap kemungkinan tindakan agresi rezim Zionis.